Rabu, 08 Januari 2014

Tugas Kewarganegaraan

MAKALAH

KEMISKINAN

Penyebab Kemiskinan di Kab. Kutai Kartanegara




 BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Kemiskinan merupakan salah satu masalah sosial yang mendasar yang dihadapi oleh Bangsa Indonesia. Hal tersebut ditandai dengan adanya berbagai kekurangan dan ketidakberdayaan diri si miskin. Berbagai kekurangan dan ketidakberdayaan tersebut disebabkan baik dari faktor internal maupun eksternal, seperti adanya keterbatasan untuk memelihara dirinya sendiri, tidak mampu memanfaatkan tenaga mental maupun fisiknya untuk memenuhi kebutuhan dll. Dengan begitu, segala aktivitas yang mereka lakukan untuk meningkatkan hidupnya sangat sulit. Pada umumnya masyarakat menjadi miskin bukan karena kurang pangan, tetapi miskin dalam bentuk minimnya kemudahan atau materi. Dari ukuran kehidupan modern pada masa kini mereka tidak menikmati fasilitas pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kemudahan-kemudahan lainnya yang tersedia. Ada dua kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi yaitu kemiskinan alami dan kemiskinan buatan.
Ada dua kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi, yaitu kemiskinan alami dan kemiskinan buatan. Dampaknya, para ekonom selalu gencar mengkritik kebijakan pembangunan yang mengedepankan pertumbuhan ketimbang dari pemerataan.
Di Kutai Kartanegara tepatnya di kecamatan Tenggarong masih terdapat masyarakat yang miskin. Masyarakat miskin tersebut tinggal di daerah pinggir sungai, yang seharusnya di pinggir sungai itu tidak boleh dibangun tempat tinggal karena dapat membahayakan kehidupan mereka sendiri.

1.2    Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat rumusan masalah dalam makalah ini adalah Apa penyebab terjadinya kemiskinan di wilayah Tenggarong ?

1.3    Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui apa penyebab terjadinya kemiskinan dan bagaimana cara menangani kemiskinan yang ada diwilayah tersebut.






BAB II
LANDASAN TEORI

2.1    Pengertian Kemiskinan
Pengertian kemiskinan disampaikan oleh beberapa ahli atau lembaga, diantaranya :
1.    BAPPENAS (1993)
Mendefisnisikan bahwa keimiskinan sebagai situasi serba kekurangan yang terjadi bukan karena kehendak oleh si miskin, melainkan karena keadaan yang tidak dapat dihindari dengan kehidupannya.

2.    Levitan (1980)
Mengemukakan kemiskinan adalah kekurangan barang-barang dan pelayanan-pelayanan yang dibutuhkan untuk mencapai suatu standar hidup yang layak.

3.    Reitsma dan Kleinpenning (1994)
Mendefisnisikan kemiskinan sebagai ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya, baik yang bersifat material maupun non material.

4.    Dari segi standar kebutuhan hidup yang layak/kebutuhan pokok
Golongan ini mengatakan bahwa kemiskinan itu adalah tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan pokok/dasar disebabkan karena adanya kekurangan barang-barang dan pelayanan-pelayanan yang dibutuhkan untuk memenuhi standar hidup yang layak. Ini merupakan kemiskinan absolute/mutlak yakni tidak terpenuhinya standar kebutuhan pokok/dasar.

5.    Dari segi pendapatan / penghasilan income
Kemisikinan oleh golongan ini dilukiskan sebagai kurangnya pandapatan/penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok.

6.    Dari segi keadaan / kondisi
Kemiskinan sebagai suatu kondisi/keadaan yang bisa dicirikan dengan :
a.              Kelaparan / kekurangan makan dan gizi.
b.             Pakaian dan perumahan yang tidak memadai.
c.              Tingkat pendidikan yang rendah.
d.             Sangat sedikitnya kesempatan untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang pokok.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan secara umum pengertian kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Hidup miskin bukan hanya berarti hidup di dalam kondisi kekurangan sandang, pangan, dan papan. Akan tetapi, kemiskinan juga berarti akses yang rendah dalam sumber daya dan aset produktif untuk memperoleh kebutuhan-kebutuhan hidup, antara lain: ilmu pengetahuan, informasi, teknologi, dan modal.

2.2    Bentuk-Bentuk Kemiskinan
Dari berbagai sudut pandang tentang pengertian kemiskinan, pada dasarnya bentuk kemiskinan dapat dikelompokkan menjadi tiga pengertian, yaitu:
1.      Kemiskinan Absolut.
Seseorang dikategorikan termasuk ke dalam golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum, yaitu: pangan, sandang, kesehatan, papan, dan pendidikan.
2.      Kemiskinan Relatif.
Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan tetapi masih berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya.
3.      Kemiskinan Kultural.
Kemiskinan ini berkaitan erat dengan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya.
Keluarga miskin adalah pelaku yang berperan sepenuhnya untuk menetapkan tujuan, mengendalikan sumber daya, dan mengarahkan proses yang mempengaruhi kehidupannya. Ada tiga potensi yang perlu diamati dari keluarga miskin yaitu:
1.         Kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dasar, contohnya dapat dilihat dari aspek pengeluaran keluarga, kemampuan menjangkau tingkat pendidikan dasar formal yang ditamatkan, dan kemampuan menjangkau perlindungan dasar.
2.         Kemampuan dalam melakukan peran sosial akan dilihat dari kegiatan utama dalam mencari nafkah, peran dalam bidang pendidikan, peran dalam bidang perlindungan, dan peran dalam bidang kemasyarakatan.
3.         Kemampuan dalam menghadapi permasalahan dapat dilihat dari upaya yang dilakukan sebuah keluarga untuk menghindar dan mempertahankan diri dari tekanan ekonomi dan non ekonomi.

Kemiskinan merupakan masalah yang ditandai oleh berbagai hal antara lain rendahnya kualitas hidup penduduk, terbatasnya kecukupan dan mutu pangan, terbatasnya dan rendahnya mutu layanan kesehatan, gizi anak, dan rendahnya mutu layanan pendidikan. Selama ini berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi kemiskinan melalui penyediaan kebutuhan pangan, layanan kesehatan dan pendidikan, perluasan kesempatan kerja dan sebagainya.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1    Indikator-Indikator Kemiskinan
Adapun idikator-indikator kemiskinan sebagaimana dikutip dari Badan Pusat Statistika, antara lain sebagai berikut :
a.         Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (sandang, pangan, papan).
b.         Tidak adanya akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan, pendidikan, sanitasi, air bersih, dan transportasi).
c.         Tidak adanya jaminan masa depan (karena tidak adanya investasi untuk pendidikan dan keluarga).
d.        Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat individual maupun massa.
e.         Rendahnya kualitas sumber daya manusia dan terbatasnya sumber daya alam.
f.          Kurangnya apresiasi dalam kegiatan sosial masyarakat.
g.         Tidak adanya akses dalam lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan.
h.         Ketidakmampuan untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental.
i.           Ketidakmampuan dan ketidaktergantungan sosial (anak-anak terlantar, wanita korban kekerasan rumah tangga, janda miskin, kelompok marjinal dan terpencil).
Kemiskinan merupakan permasalahan yang urgen dan butuh penanganan serius. Karena kemiskinan menjadi indikator kesejahteraan suatu bangsa. Pemerintahan yang tak mampu menanggulangi kemiskinan, maka bisa dikatakan pemerintahan itu telah gagal mensejahterakan rakyatnya. Kemiskinan harus menjadi agenda utama dalam proses pembangunan nasional.
Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan juga dapat disebabkan karena sistem pemerintahan yang tidak pro dengan rakyat, sehingga menyebabkan kensenjangan antara pemerintah dengan masyarakat kecil. selain itu kemiskinan yang disebabkan karena pandangan agama yang salah, contohnya, kita tahu bahwa semua mati, rezeki, itu ada yang mengatur akan tetapi jika kita disertai dengan usaha maka darimana rezeki itu akan dating

3.2    Faktor-Faktor Penyebab Kemiskinan
Pada dasarnya ada dua faktor penting yang dapat menyebabkan kegagalan program penanggulangan kemiskinan. Pertama, program-program penanggulangan kemiskinan selama ini cenderung berfokus pada upaya penyaluran bantuan sosial untuk orang miskin. Hal itu, antara lain, berupa beras untuk rakyat miskin dan program jaring pengaman sosial (JPS) untuk orang miskin. Upaya seperti ini akan sulit menyelesaikan persoalan kemiskinan yang ada karena sifat bantuan tidaklah untuk pemberdayaan, bahkan dapat menimbulkan ketergantungan.
Faktor penyebab kemiskinan ada dua kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi, yaitu:
1.             Kemiskinan alamiah
Kemiskinan alamiah terjadi akibat sumber daya alam yang terbatas, penggunaan teknologi yang rendah, dan bencana alam.
2.             Kemiskinan buatan
Kemiskinan ini terjadi karena lembaga-lembaga yang ada di masyarakat membuat sebagian anggota masyarakat tidak mampu menguasai sarana-sarana dan berbagai fasilitas lain yang tersedia hingga mereka tetap miskin.
Bila kedua faktor penyebab kemiskinan tersebut dihubungkan dengan masalah mutu pangan, kesehatan, dan pendidikan maka dapat disimpulkan beberapa faktor penyebab kemiskinan antara lain:
1.             Kurang tersedianya sarana yang dapat dipakai keluarga miskin secara layak misalnya puskesmas, sekolah, tanah yang dapat dikelola untuk bertani.
2.             Kurangnya dukungan pemerintah sehingga keluarga miskin tidak dapat menjalani dan mendapatkan haknya atas pendidikan dan kesehatan yang layak dikarenakan biaya yang tinggi.
3.             Rendahnya minat masyarakat miskin untuk berjuang mencapai haknya karena mereka kurang mendapat pengetahuan mengenai pentingnya memliki pendidikan tinggi dan kesehatan yang baik.
4.             Kurangnya dukungan pemerintah dalam memberikan keahlian agar masyarakat miskin dapat bekerja dan mendapatkan penghasilan yang layak.
5.             Wilayah Indonesia yang sangat luas sehingga sulit bagi pemerintah untuk menjangkau seluruh wilayah dengan perhatian yang sama. Hal ini menyebabkan terjadi perbedaan masalah kesehatan, mutu pangan dan pendidikan antara wilayah perkotaan dengan wilayah yang tertinggal jauh dari perkotaan.

3.3    Aspek Penyebab Kemiskinan secara Majemuk
Ada beberapa aspek yang menyebabkan terjadinya kemiskinan secara majemuk, yaitu sebagai berikut :
a.              Kelembagaan
Rakyat miskin tidak mempunyai akses untuk terhubung dengan pemerintah yang membuat keputusan, sedangkan kelembagaan yang ada tidak pernah menjaring atau menyalurkan aspirasi yang muncul dari bawah, dan setiap kebutuhan rakyat miskin sudah didefinisikan dari atas oleh lembaga yang sudah ada, sehingga kemiskinan tidak dapat terselesaikan.

b.             Regulasi
Kebijakan pemerintah yang mengutamakan kepentingan ekonomi, kebijakan ekonomi dalam investasi modal pada sektor-sektor industri yang tidak berbasis pada potensi  rakyat menutup kesempatan masyarakat untuk mengembangkan potensinya dan menjadi akar poses kemiskinan.
c.              Good governance
Tidak adanya transparasi dan keterbukaan pada pembuatan dan pelaksanaan kebijakan yang mengakibatkan kebijakan hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu. Segala bentuk regulasi diputuskan oleh lembaga-lembaga pembuat kebijakan tanpa mengikutkan para pelaku yang terlibat dan tidak memahami aspirasi rakyat miskin sehingga kebijakan yang muncul tidak mendukung rakyat miskin.

3.4    Penyebab Kemiskinan di Kab. Kutai Kartanegara
Penyebab kemiskinan di Kabupaten Kutai Kartanegara, diakibatkan oleh kombinasi faktor-faktor :
a.         Faktor struktural
Kemiskinan yang disebabkan oleh faktor dari luar manusia, diantaranya adalah sistem kebijakan pemerintah, kekuasaan, tidak adanya kesempatan dan lain sebagainya.
b.         Faktor Kultural
Kemiskinan ini berkaitan erat dengan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya.
c.         Faktor alamiah
Kemiskinan alamiah terjadi akibat sumber daya alam yang terbatas, penggunaan teknologi yang rendah, dan bencana alam.
d.        Faktor migrasi masuk
Kemiskinan ini terjadi karena banyaknya pendatang yang menetap di wilayah Tenggarong dan pendatang tersebut mempunyai keahlian dan mampu menguasai sarana sarana kerja yang ada di Tenggarong.

3.5    Angka Kemiskinan Kab. Kukar Menurut Badan Pusat Statistik Tahun 2011
Pada tahun 2012, Badan Pusat Statistik  (BPS) Kabupaten Kukar mengeluarkan data statistik tentang penduduk miskin yang ada di seluruh wilayah Kabupaten Kukar. Data itu berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada tahun 2011.
Dari survei tersebut, diketahui jumlah penduduk miskin di Kukar mencapai 47 ribu orang atau 7,2 persen dari seluruh jumlah penduduk  sebanyak 650 ribu jiwa pada tahun 2011. Data tersebut adalah data secara makro yang di keluarkan oleh BPS. Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Jadi penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan di bawah garis kemiskinan. Di  Kukar sendiri pada tahun 2011, garis kemiskinan berada pada Rp309.604.

3.6    Program Pengentasan Kemiskinan Di Kab. Kutai Kartanegara
Kabupaten Kutai Kartanegara terus melakukan terobosan dalam rangka pengurangan jumlah penduduk miskin. Dalam program prioritas tersebut Pemerintah daerah mengucurkan anggaran dalam APBD sebesar Rp 62,579 Miliar. Bupati Kukar Rita Widyasari  berkomitmen dalam mengurangi angka kemiskinan beberapa program yang dilakukan adalah sebagai berikut :
a.         Program Rehabilitasi Rumah Tak Layak Huni (RTLH) dengan anggaran Rp. 5 Miliar dengan 100 sasaran bedah rumah pada tahun 2012. Dan pada tahun 2013 Pemkab Kukar menargetkan 1500 rumah dengan anggaran Rp. 75 Miliar.
b.         Memberikan penunjang Sumbangan Warga Tidak Mampu (SWTM) kepada 16.223 orang.
c.         Subsidi pendidikan, subsidi kesehatan,
d.        Alokasi Dana Desa (ADD),
e.         Semenisasi jalan-jalan di dalam desa/kelurahan,
f.          Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) yang merupakan patungan dana pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten.
g.         Perlu adanya penyempurnaan yang bersifat strategik pada penanganan penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Kutai Kartanegara, baik dari segi perencanaan strategik, pelaksanaan, monitoring dan evaluasinya agar program yang dilaksanakan dapat menyentuh langsung kepentingan rakyat miskin.
h.         Pengembangan sektor-sektor berbasis tanaman pangan untuk meningkatkan daya saing dengan mengembangkan cluster yang berbasis agribisnis dan industri.
i.           Kredit pemberdayaan ekonomi perempuan.
j.           Pengembangan Desa Mandiri











BAB IV
PENUTUP

4.1    KESIMPULAN
Dari pemaparan di atas  kami  simpulkan bahwa kemiskinan terjadi di wilayah Tenggarong karena sumber daya alam yang terbatas, penggunaan teknologi yang rendah, dan juga faktor-faktor yang menjadi penyebab dari kemiskinan yaitu dari segi standar kebutuhan hidup yang layak/kebutuhan pokok, dari segi pendapatan/penghasilan income, dari segi keadaan /kondisi. Karena lembaga-lembaga yang ada di masyarakat membuat sebagian anggota masyarakat tidak mampu menguasai sarana–sarana dan berbagai fasilitas lain yang tersedia hingga mereka tetap miskin.
Pemerintahan yang tak mampu menanggulangi kemiskinan, maka bisa dikatakan pemerintahan itu telah gagal mensejahterakan rakyatnya. Pemerintah mempunya program dalam mengatasi kemiskinan yaitu Santunan Warga Tidak Mampu (SWTM), subsidi pendidikan, subsidi kesehatan, Alokasi Dana Desa (ADD), semenisasi jalan-jalan di dalam desa/kelurahan, Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) yang merupakan patungan dana pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten. Perlu adanya penyempurnaan yang bersifat strategik pada penanganan penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Kutai Kartanegara, baik dari segi perencanaan strategik, pelaksanaan, monitoring dan evaluasinya agar program yang dilaksanakan dapat menyentuh langsung kepentingan rakyat miskin.
4.2    SARAN
Sebaiknya Pemerintah Kutai Kartanegara dapat memperhatikan warga miskin di wilayah tersebut. Pemerintah Kutai Kartanegara harus lebih tegas dalam mengatasi masalah kemiskinan. Seperti lebih memperhatikan pendidikan, kesehatan dan menyediakan lapangan pekerjaan untuk warga yang kurang mampu tersebut. Kemiskinan harus menjadi agenda utama dalam proses pembangunan nasional.
Pemerintah harus membuat program yang jelas dan konsisten untuk membasmi masalah kemiskinan. Progam ini harus dijalankan dengan komitmen yang tinggi, jangan sampai kejadian yang lalu terulang kembali, yaitu pembagian uang BLT yang kami rasa itu tidak efesien, malah membuat masyarakat menjadi ketergantungan dan malas bekerja.
Selain itu semua masyarakat harus sadar akan tanggung jawabnya terhadap sebuah negara, tanggung jawab ini tidak hanya menjaga nama baik sebuah negara, atau mematuhi hukum yang di tetapkan dalam negara, akan tetapi seperti masalah kemiskinan ini juga menjadi tanggung jawab oleh semua warga negara, walaupun yang miskin itu bukan saudara sedarah kita ataun kerabat kita tapi kita hidup dalam satu negara apakah kita tega melihat mereka miskin, tidak punya rumah, menggembel dan sedangkan kita bergelimbangan harta setiap hari selalu pergi ke mall belanja sebanyak-banyaknya untuk menghabiskan uang yang tidak jelas kegunaanya, alangkah baiknya kita sisihkan untuk membantu mereka.

DAFTAR PUSTAKA

2.        file:///D:/File%20kampus/PKN/tenggarong/makalah-kemiskinansosiologi.html
8.        sapos.co.id






Tidak ada komentar:

Posting Komentar